Ketika itu malam selasa, tiga setengah jam
sebelum angka di kalender berubah baru, aku sempurna termakan bujuk rayu teman
kosanku. “Ayyolah, coy…” kita keluar, Kan, besok aku mau pulang ke kampung?
kita bikin acara perpisahan lah.”
Cuaca di dalam hatiku sebenarnya sedang buruk
rupa. Supra fit, motor yang kumiliki dari orang tua, Sudah tak nyaman dibawa
ngebut. Jadinya aku malas keluar. Apalagi malam-malam, sudah lepas isya pula,
serta bukan untuk tujuan yang sifatnya “kudu/wajib”. Pun itu teman yang bernama
Gugun, pulang ke kampung tidak untuk selama-lamanya. Cuma sebentar sekalian
mengurus urusan kampusnya. Palingan seminggu sudah balik ke kos lagi.
Tapi lidahku terlalu berat untuk mengucap kata,
“Nggak mau, ah! Males.” Bagaimana pun ia adalah teman yang lurus hati, tidak
sombong. Sering melipurku dengan cara-cara yang kadang urakan na’udzubillah.
Acap memancingku tergelak karena lirik lagu yang dipaksa nyanyikan tapi salah
hampir seutuhnya. syairnya melenggang ke Jakarta, iramanya melancong ke Papua.
Dan ia juga sosok yang paling setia menanyaiku, “Coy, udah makan belum?”
Padahal bisa jadi, perutku ketika itu jauh lebih kenyang. Untuk itu semua,
pantaskah aku mengatakan tidak? Meski dengan kalimat yang kupaksa indah
semisal, “Maaf, bos, aku ingiiin sekali. Tapi aku tak bisa. Sedang ada tugas.
Tidak. Aku malu. Maka, kurelakan diriku terjaring
bujuk rayu. Hingga jadilah kami keluar malam itu. Sebelum leluasa niat
kulisankan, teman ku itu sudah punya usul duluan. Semena-mena haluan motor
diputar ke arah Jl. Lampung Raya. “Coy, tempat biasa, ya. Makan nasi goreng
kita.” Oh mengertilah aku. Rupa-rupanya ini tujuan “acara perpisahan” itu. Dia
kangen sama Nasi
goreng yang super murah.
Suasana terbilang riang. Jaring-jaring keakraban
menjebak kami dengan bantuan potongan obrolan, dua gelas teh hangat, dan nasi
goreng. Tengah asyik-asyiknya waktu kami habiskan, sesosok bocah perempuan
tiba-tiba hadir. Ia dibalut seragam olah raga berwarna merah tua. Jilbab hitam
pekat menutupi sebagian kepalanya tanpa alas kaki. Kulitnya hitam, pucat.
Wajahnya adalah persekutuan antara ras India dengan aura Afrika. Dia mendatangi
setiap meja dan meletakkan sepucuk amplop kosong.
Kuperhatikan tiap inci geraknya. Terlalu ringan
untuk disebut canggung. Ketika ia menaiki anak tangga, aku merasa mengenalnya.
Menurut laporan prosesor dalam kepalaku, anak itu adalah anak yang sama yang
acap kulihat duduk menadah tangan di depan tangga Ramayana.
Kala kakinya menjangkau mejaku, mata kami
bertabrakan. Aku memberinya senyum pasaran, dia menghadiahiku raut muka
sungkan. Segegas dia terlihat hendak meninggalkan mejaku, selekas itu aku
menahannya dengan tawaran, “Dek, mau ikutan makan?” Dia menatapku.
Tawaranku dijawab dengan anggukan. Saat mulutnya terbuka, tampak gigi-gigi
berbaris sewarna mentega. Dia lalu meletakkan badannya di sebelahku. Sengaja
aku tidak memesankan nasi goreng untuknya. Pada pekerja warung kupesankan
sebotol teh sosro dingin dan semangkok mie. Jeda antara pesanan tiba, kupakai
untuk mengajaknya berbincang.
Dengan siapa Adik ke mari?” Aku mulai
membuka kran. “Sendiri,” sahutnya tanpa menatapku.
Aku menelengkan wajah. Mengeja deretan huruf yang
tercetak rapi di lengan baju trainingnya. Dan aksara-aksara berwarna putih itu
mengabarkanku nama sebuah sekolah dasar negeri di daerah Lampung, Bandar
Lampung.
“Dari Wayhalim?” Dia mengangguk. Kualihkan
pandangan ke arah teman kosanku. Mereka mendelikkan mata. Sesuatu memelintir
urat-urat dalam kepalaku. Jam di ponselku menunjuk angka 21.20 WIB. Jarak
Wayhalim ke Jl Lampung Raya sekitar 10 km. Dan adik ini datang seorang diri
untuk meletakkan amplop-amplop kosong di atas meja? Oh…
Saat-saat begini, aku paling sulit mempengaruhi
lidahku untuk tidak berbicara. Berkompi-kompi kalimat keluar dan menyerang adik
itu dalam wujud pertanyaan. Apa yang kemudian aku tahu adalah: Namanya Sari.
Dia belum makan malam. Jika tidak tinggal kelas, saat ini harusnya ia duduk di
kelas 4 SD. Meletakkan amplop-amplop kosong dengan gunungan harap akan diisi
rupiah oleh orang-orang sudah jadi kegiatan rutinnya di luar sekolah. Ibunya
satu dari sekian penjual gorengan jalanan yang berkeliling di komplek-komplek.
Ayahnya sudah meninggal dan tak pun sempat ia kenali. Ia memiliki seorang
kakak. Alat transportasi pulang pergi-nya adalah becak. Bukan carteran tapi.
Dia asal naik saja. Ia kikuk dan berpikir agak lama sebelum memberitahu jumlah
rupiah yang diperolehnya saban hari. Kisaran angka yang kemudian lahir dari
rahim mulutnya adalah 30-70 ribu. Setiap malamnya, ia baru akan pulang ke
Wayhalim pada jam 23.00 WIB. Itu pengakuan si adik padaku. Percayalah, tidak
hanya aku yang mencatatnya tapi julangan pipet putih yang menancap di botol
sosro dingin miliknya juga mendengar jawaban-jawaban itu.
Lalu kami gagu sejenak, memperhatikan si adik
menyesap cairan teh melalui lubang pipet. Gugun mengangsurkan mangkok mie dan
adik itu menariknya dengan gerak kaku. “Usah malu-malu. Makan saja sesuka
Adik. Nanti kita bayar,” aku menepuk pundaknya.
Baru saja Gugun siap memberi wejangan ala kadar
berbagi semangat walau sekedar tentang sekolah dan pengajian yang jangan
pernah adik terpikir untuk tinggalkan, sesuatu di luar duga kami terjadi.
Seorang perempuan muda, kuterka usianya sekitar
24-an, masuk dari pintu warung. Jengkel mengental di wajahnya tapi coba ia
encerkan dengan bersikap dingin. Bajunya kurung biru pudar. Kakinya diselimuti
celana kulot biru tua dan jilbab kurung hitam sempurna melindungi kepalanya.
Dia menyeret sandalnya setengah enggan.
Dipungutnya satu-satu amplop kosong yang sudah
Dewi letakkan di setiap meja sambil mulutnya datar menggumam, Ngapain
makan-makan di situ? Bukannya terus cari duit. Sariii… turun kemari atau
kujambak rambutmu nanti!”
Dia terus meracau dan mengulang-ulang kalimat
yang sama. Tapi kepalanya tertunduk dan suaranya rendah. Aku menerjemahkan
bahasa tubuh itu sebagai wujud perlawanannya terhadap rasa marah agar tak
seluruhnya tumpah.
Di sebelahku, Sari gegas menghabiskan minumannya.
Duduknya tak lagi aman.
Sari pun turun sebelum perempuan itu sampai di
tempat kami. Amplopnya direlakan tinggal. Dan amplop itu menjadi alat pancing
bagi si kakak tadi untuk tetap naik ke warung bagian atas. Dia pun sampai di
mejaku. Tapi aku dan teman kosku sudah kehilangan selera. Dia benar-benar
menghindari tatapan kami. Mulutnya belum bungkam, masih mengulang kalimat tadi
meski tahu kalau Sari sudah turun.
Ada yang ganjil dari gelagat perempuan itu. Dia
tidak senormal sikap orang-orang yang lazim disebut normal. Meski aku bukan
seorang psikolog dan tidak begitu gandrung membaca buku psikologi, tapi
sedikitnya aku dapat mengindera ada yang tidak sepenuhnya beres dalam
perkembangannya. Ekspresinya gasal.
Kami membayar apa yang harus dibayar. Lalu
pulang, menandaskan malam yang disebut panjang di alas empuk pembaringan. Saat
menyusun jalan kembali, aku tidak melihat Sari. Entah dia sudah pulang atau
menunggu jarum jam sampai di angka 23.00 seperti penuturannya.
No comments:
Post a Comment