Wednesday, July 31, 2019

Adik Penyebar Amplop Di Malam Hari


Ketika itu malam selasa, tiga setengah jam sebelum angka di kalender berubah baru, aku sempurna termakan bujuk rayu teman kosanku. “Ayyolah, coy…” kita keluar, Kan, besok aku mau pulang ke kampung? kita bikin acara perpisahan lah.”
Cuaca di dalam hatiku sebenarnya sedang buruk rupa. Supra fit, motor yang kumiliki dari orang tua, Sudah tak nyaman dibawa ngebut. Jadinya aku malas keluar. Apalagi malam-malam, sudah lepas isya pula, serta bukan untuk tujuan yang sifatnya “kudu/wajib”. Pun itu teman yang bernama Gugun, pulang ke kampung tidak untuk selama-lamanya. Cuma sebentar sekalian mengurus urusan kampusnya. Palingan seminggu sudah balik ke kos lagi.
Tapi lidahku terlalu berat untuk mengucap kata, “Nggak mau, ah! Males.” Bagaimana pun ia adalah teman yang lurus hati, tidak sombong. Sering melipurku dengan cara-cara yang kadang urakan na’udzubillah. Acap memancingku tergelak karena lirik lagu yang dipaksa nyanyikan tapi salah hampir seutuhnya. syairnya melenggang ke Jakarta, iramanya melancong ke Papua. Dan ia juga sosok yang paling setia menanyaiku, “Coy, udah makan belum?” Padahal bisa jadi, perutku ketika itu jauh lebih kenyang. Untuk itu semua, pantaskah aku mengatakan tidak? Meski dengan kalimat yang kupaksa indah semisal, “Maaf, bos, aku ingiiin sekali. Tapi aku tak bisa. Sedang ada tugas.
Tidak. Aku malu. Maka, kurelakan diriku terjaring bujuk rayu. Hingga jadilah kami keluar malam itu. Sebelum leluasa niat kulisankan, teman ku itu sudah punya usul duluan. Semena-mena haluan motor diputar ke arah Jl. Lampung Raya. “Coy, tempat biasa, ya. Makan nasi goreng kita.” Oh mengertilah aku. Rupa-rupanya ini tujuan “acara perpisahan” itu. Dia kangen sama Nasi goreng yang super murah.
Suasana terbilang riang. Jaring-jaring keakraban menjebak kami dengan bantuan potongan obrolan, dua gelas teh hangat, dan nasi goreng. Tengah asyik-asyiknya waktu kami habiskan, sesosok bocah perempuan tiba-tiba hadir. Ia dibalut seragam olah raga berwarna merah tua. Jilbab hitam pekat menutupi sebagian kepalanya tanpa alas kaki. Kulitnya hitam, pucat. Wajahnya adalah persekutuan antara ras India dengan aura Afrika. Dia mendatangi setiap meja dan meletakkan sepucuk amplop kosong.
Kuperhatikan tiap inci geraknya. Terlalu ringan untuk disebut canggung. Ketika ia menaiki anak tangga, aku merasa mengenalnya. Menurut laporan prosesor dalam kepalaku, anak itu adalah anak yang sama yang acap kulihat duduk menadah tangan di depan tangga Ramayana.
Kala kakinya menjangkau mejaku, mata kami bertabrakan. Aku memberinya senyum pasaran, dia menghadiahiku raut muka sungkan. Segegas dia terlihat hendak meninggalkan mejaku, selekas itu aku menahannya dengan tawaran, “Dek, mau ikutan makan?” Dia menatapku. Tawaranku dijawab dengan anggukan. Saat mulutnya terbuka, tampak gigi-gigi berbaris sewarna mentega. Dia lalu meletakkan badannya di sebelahku. Sengaja aku tidak memesankan nasi goreng untuknya. Pada pekerja warung kupesankan sebotol teh sosro dingin dan semangkok mie. Jeda antara pesanan tiba, kupakai untuk mengajaknya berbincang.
Dengan siapa Adik ke mari?” Aku mulai membuka kran. “Sendiri,” sahutnya tanpa menatapku.
Aku menelengkan wajah. Mengeja deretan huruf yang tercetak rapi di lengan baju trainingnya. Dan aksara-aksara berwarna putih itu mengabarkanku nama sebuah sekolah dasar negeri di daerah Lampung, Bandar Lampung.
“Dari Wayhalim?” Dia mengangguk. Kualihkan pandangan ke arah teman kosanku. Mereka mendelikkan mata. Sesuatu memelintir urat-urat dalam kepalaku. Jam di ponselku menunjuk angka 21.20 WIB. Jarak Wayhalim ke Jl Lampung Raya sekitar 10 km. Dan adik ini datang seorang diri untuk meletakkan amplop-amplop kosong di atas meja? Oh…
Saat-saat begini, aku paling sulit mempengaruhi lidahku untuk tidak berbicara. Berkompi-kompi kalimat keluar dan menyerang adik itu dalam wujud pertanyaan. Apa yang kemudian aku tahu adalah: Namanya Sari. Dia belum makan malam. Jika tidak tinggal kelas, saat ini harusnya ia duduk di kelas 4 SD. Meletakkan amplop-amplop kosong dengan gunungan harap akan diisi rupiah oleh orang-orang sudah jadi kegiatan rutinnya di luar sekolah. Ibunya satu dari sekian penjual gorengan jalanan yang berkeliling di komplek-komplek. Ayahnya sudah meninggal dan tak pun sempat ia kenali. Ia memiliki seorang kakak. Alat transportasi pulang pergi-nya adalah becak. Bukan carteran tapi. Dia asal naik saja. Ia kikuk dan berpikir agak lama sebelum memberitahu jumlah rupiah yang diperolehnya saban hari. Kisaran angka yang kemudian lahir dari rahim mulutnya adalah 30-70 ribu. Setiap malamnya, ia baru akan pulang ke Wayhalim pada jam 23.00 WIB. Itu pengakuan si adik padaku. Percayalah, tidak hanya aku yang mencatatnya tapi julangan pipet putih yang menancap di botol sosro dingin miliknya juga mendengar jawaban-jawaban itu.
Lalu kami gagu sejenak, memperhatikan si adik menyesap cairan teh melalui lubang pipet. Gugun mengangsurkan mangkok mie dan adik itu menariknya dengan gerak kaku. “Usah malu-malu.  Makan saja sesuka Adik. Nanti kita bayar,” aku menepuk pundaknya.
Baru saja Gugun siap memberi wejangan ala kadar berbagi semangat walau sekedar tentang sekolah dan  pengajian yang jangan pernah adik terpikir untuk tinggalkan, sesuatu di luar duga kami terjadi.
Seorang perempuan muda, kuterka usianya sekitar 24-an, masuk dari pintu warung. Jengkel mengental di wajahnya tapi coba ia encerkan dengan bersikap dingin. Bajunya kurung biru pudar. Kakinya diselimuti celana kulot biru tua dan jilbab kurung hitam sempurna melindungi kepalanya. Dia menyeret sandalnya setengah enggan.
Dipungutnya satu-satu amplop kosong yang sudah Dewi letakkan di setiap meja sambil mulutnya datar menggumam, Ngapain makan-makan di situ? Bukannya terus cari duit. Sariii… turun kemari atau kujambak rambutmu nanti!”
Dia terus meracau dan mengulang-ulang kalimat yang sama. Tapi kepalanya tertunduk dan suaranya rendah. Aku menerjemahkan bahasa tubuh itu sebagai wujud perlawanannya terhadap rasa marah agar tak seluruhnya tumpah.
Di sebelahku, Sari gegas menghabiskan minumannya. Duduknya tak lagi aman.
Sari pun turun sebelum perempuan itu sampai di tempat kami. Amplopnya direlakan tinggal. Dan amplop itu menjadi alat pancing bagi si kakak tadi untuk tetap naik ke warung bagian atas. Dia pun sampai di mejaku. Tapi aku dan teman kosku sudah kehilangan selera. Dia benar-benar menghindari tatapan kami. Mulutnya belum bungkam, masih mengulang kalimat tadi meski tahu kalau Sari sudah turun.
Ada yang ganjil dari gelagat perempuan itu. Dia tidak senormal sikap orang-orang yang lazim disebut normal. Meski aku bukan seorang psikolog dan tidak begitu gandrung membaca buku psikologi, tapi sedikitnya aku dapat mengindera ada yang tidak sepenuhnya beres dalam perkembangannya. Ekspresinya gasal.
Kami membayar apa yang harus dibayar. Lalu pulang, menandaskan malam yang disebut panjang di alas empuk pembaringan. Saat menyusun jalan kembali, aku tidak melihat Sari. Entah dia sudah pulang atau menunggu jarum jam sampai di angka 23.00 seperti penuturannya.

No comments:

Post a Comment

CARA MENAMPILKAN FORMAT TANGGAL DI MAIL MERGE MS WORD

Anda pernah menggunakan mail merge dalam pengetikan undangan atau apa saja yang menggunakan fasilitas mail merge? Jika belum silakan pelaj...